Menulislah, karena pena para penulis lebih tajam dari pedang para pejuang !

Racun Eurocentrism

Saat ini kita menyadari dan merasakan umat Islam dalam konteks peradaban berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Secara ekonomi, negara-negara Muslim dianggap sebagai negara berkembang. Umat Islam menjadi konsumen kepada apa yang mereka gunakan. Sekalipun kekayaan alam negara-negara Muslim melimpah ruah, namun kenyataannya, kemakmuran dan kesejahteraan masih jauh dari kehidupan umat Islam. Kondisi yang memprihatinkan juga terjadi dalam kehidupan politik. Dalam skala internasional, kita tahu, OIC yang terdiri dari negara-negara Muslim tidak mampu meredam kesemena-menaan perbuatan zionis. Sekalipun perilaku double standart begitu jelas dari kekuatan adidaya, namun negara-negara Muslim cenderung membiarkan kesewenang-wenangan tersebut terus terjadi. Secara internal dan eksternal, umat Islam juga tercerai-berai dengan beragam persoalan pemahaman keagamaan, perbedaan visi mengenai politik, kepentingan yang beraneka-ragam, kebanggaan akan kelompok dan partainya, semuanya menjadikan umat Islam yang sudah lemah menjadi semakin lemah. Bersatu pun umat Islam dalam menghadapi kuatnya hegemoni politik sekular, belum tentu menang. Apalagi, kondisi umat yang sudah lemah, akan semakin melemah dengan berbagai perbedaan sudut pandang dalam melihat berbagai persoalan. Tentu, bukan tidak boleh adanya beragam sudut pandang, namun persoalan-persoalan mendasar umat masih sangat banyak. Kesatuan pandangan dan aksi diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. 

Dalam konteks budaya, umat Islam juga menjadi konsumen. Budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Muslim sekarang. Aspek negatif dari globalisasi telah banyak menyeret generasi muda hanyut dalam kehidupan materialisme, individualisme, hedonisme dan berbagai ideologi destruktif lainnya.

Kondisi umat yang lemah ini juga sulit untuk bangkit ketika kalangan terdidik dari umat Islam banyak yang terwarnai dengan Eurocentrism. Paradigma ilmu yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tidak mengarah kepada peningkatan keimanan. Namun, sebaliknya, semakin menjauh dari nilai-nilai keislaman. Sekalipun lembaga-lembaga pendidikan Islam bak jamur di musim hujan, namun kualitas yang bersumber dari tradisi peradaban Islam tampak masih kurang. Bahkan, tidak susah untuk menilai, banyak materi pelajaran dari tingkat sekolah dasar Islam hingga tingkat universitas Islam, yang mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama.

Kondisi ini semakin memprihatinkan, tatkala Eurocentrism bahkan merambah kepada pelajaran agama Islam. Siswa dan mahasiswa yang mempelajari Islam terkadang bahkan membawa Eurocentrism ke dalam kehidupan umat Islam. Kekeliruan, kebingungan menjadi fenomena umum di masyarakat. Sebagian santri, siswa dan mahasiswa yang seharusnya menjadi pembela Islam, justru tampil antipati terhadap kehidupan bernuansa agama. Kebebasan berpendapat tanpa tanggung jawab ilmiah menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan akademis. Kesalahan dan kebenaran menjadi samar. Kebebasan dan tanggung-jawab ilmiah menjadi abu-abu. Batasan-batasan menjadi tak terbatas. Ilmu yang rusak sudah menjadi fenomena yang tersebar dalam kehidupan umat Islam. Jika kerusakan ilmu terus-menerus terjadi, maka hasilnya adalah kerusakan masyarakat.

Dalam kondisi umat yang serba lemah dan keliru, sangat penting kiranya untuk kembali mengambil ibrah kepada kejayaan Islam seperti yang pernah terjadi suatu waktu terdahulu. Tentu bukan bernostalgia, melankolis dan romantis. Namun, menjadikan orang-orang terdahulu sebagai sumber inspirasi untuk maju. Pemikiran mereka bukan saja telah mewarnai zamannya, namun juga melampaui zamannya. Apa yang diungkapkan al-Ghazali mengenai kausalitas transenden (theo apo mechane), menjadi bukti keterbatasan kausalitas deterministik Aristotelian. Apa yang dikemukakan Fakhruddin ar-Razi dalam teori filsafat alamnya, menjadi pemicu dan pemacu terhadap kritik-kritik filsafat Aristotelian sebelum Zaman Modern bermula. Dalam konteks peradaban, zaman modern Barat pada abad ke 17 dan 18 telah didahului oleh Umat Islam pada abad ke-9, 10, 11 dan ke-12. Para sarjana Muslim terdahulu telah memberikan yang terbaik bagi agama dan umat. Kesuksesan mereka sebenarnya yang menjadi inspirasi bagi masyarakat Barat untuk maju dan berkembang. Para sarjana Barat pun mengakui akan kejayaan para sarjana Muslim dalam berbagai bidang.

Melihat kondisi sekarang yang rapuh, melihat kondisi umat dulu yang maju, maka hasrat untuk maju seharusnya muncul dalam dalam diri para sarjana Muslim, agar kejayaan dahulu bisa berulang kembali. Tentu kejayaan tersebut tidak didapat dalam waktu yang instan. Kejayaan tersebut juga tidak diperoleh dengan bekerja biasa. Mereka meraih kejayaan tersebut dengan penuh mujahadah, penuh kesungguhan, penuh pengorbanan, penuh dedikasi dan komitmen yang tinggi.

Masalah ilmu merupakan masalah mendasar. Abdul Qahir al-Baghdadi menunjukkan bahwa ilmu merupakan masalah akidah bagi ahlussunnah wal jamaah. Ini dapat dimengerti karena jika seseorang bersikap skeptik, maka kebenaran baginya tidak pernah akan bisa diraih. Jika skeptik, maka kebenaran yang berdasarkan Wahyu pun tidak akan bisa diraih. Tentunya sikap seperti ini akan merusak akidah.

Tantangan ilmu adalah tantangan yang besar. Para ulama kita terdahulu, telah menunjukkan kepada kita, kejayaan bisa diraih dengan ilmu yang mereka miliki. Keulamaan adalah pewaris risalah kenabian. Ketiadaan ulama, akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran kepada kehidupan masyarakat. Dalam suasana modernitas, di mana yang batil dibenarkan, yang ragu dijadikan keyakinan, yang mutlak direlatifkan, yang otoritas dipinggirkan, yang kecil dibesarkan, yang penting diremehkan, maka tradisi dan budaya ilmu sangat penting untuk dijaga dan dikembangkan.

Guru kami, Syed Muhammad Naquib al-Attas  telah menunjukkan kepada kita tantangan ilmu yang dihasilkan oleh peradaban modern yang meaterialistik. Al-Attas telah menunjukkan kepada kita kekeliruan filsafat ilmu yang sedang dan telah terjadi dalam konteks peradaban Barat. Ia menjelaskan umat Islam saat ini sedang menghadapi kerusakan ilmu yang disebabkan oleh peradaban Barat. Dan kerusakan ilmu tersebut sekarang sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan umat Islam.

Plato dalam Republic telah memberi ilustrasi tentang sekelompok orang yang terpenjara di dalam gua. Seseorang yang sudah tahu, ia tidak akan mau untuk kembali terpenjara dengan kebodohan. Bagi kita para pecinta kebenaran, Wahyu merupakan anugrah Tuhan yang sangat berharga. Sudah sepantasnya kita tetap berpegang teguh kepada Wahyu, supaya kita tidak lagi terjebak seperti orang-orang yang terpenjara di dalam gua.

 Menghidupkan budaya ilmu adalah jejak-jejak yang ditinggalkan para ulama kita. Maka marilah kita melihat dan mengikuti jejak-jejak tersebut agar kejayaan terdahulu bisa berulang kembali. Obor keilmuanlah yang akan memberi cahaya di kegelapan hiruk-pikuk modernitas yang meminggirkan agama. Ilmu yang akan membawa kita mengulang kembali kejayaan masa dahulu. Ilmulah yang akan membimbing kita menuju kemenangan.Tentu ilmu yang kita maksudkan adalah ilmu yang dibangun di atas paradigma Islam. Ilmu yang dibangun di atas filsafat ilmu Islam. Revolusi ilmu yang bersumber dari Wahyu merupakan solusi alternatif terhadap sekularisasi ilmu. Marilah kita masuk ke dalam saf untuk melanjutkan usaha dari kembalinya kejayaan peradaban Islam.

INSISTS sebagai sebuah lembaga yang berdedikasi tinggi pada keilmuan, berharap kejayaan umat Islam terdahulu bisa berulang kembali dalam kehidupan modern saat ini. Kuliah yang baru selesai ini adalah awal kita melangkah bersama. Sekalipun jalan terjal, berliku, penuh tantangan terbentang luas dihadapan mata, namun, marilah kita melangkah maju bersama. Marilah obor keilmuan tetap dinyalakan, sekalipun masalah datang bertalu-talu. Pengorbanan kita dalam menuntut ilmu merupakan bentuk kesungguhan kita untuk meraih impian berulangnya kejayaan ulama kita terdahulu. Pengorbanan kita tidak akan sia-sia karena itu semua akan menempa kita menuju kemuliaan. Kuliah yang kita telah mulai bukanlah berakhir. Tapi baru saja bermula. Kuliah-kuliah lanjutan akan diadakan dan semua ini dilakukan untuk kembali menghidupkan tradisi budaya ilmu, yang dulu dilakukan oleh para ulama kita terdahulu. Tilka asaruna tadullu alayna fandzuru ilal atsar ba’dana!

Adnin Armas, MA. Peneliti INSISTS.

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ilham Kadir Menulis - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger